"There's no such thing as right and wrong; just popular opinion."
- Jeffrey Goines, Twelve Monkeys

   

<< August 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31

[ recommended pages ]

Journals, Diaries, Stories, Personal Blogs (in alphabetical order):

Music Related:

Anarchy, Action, Collectives, Philosophy, Campaigns, Terrors, Journals, Zines, Distros, Libraries:

Art, Artists and Galleries:

Mythology, Movie, Serial Killer related + other miscellaneous links:

Personal Shortcut

Last Top (More Than) 10 :

[American Hardcore] [the Joker and the Dark Knight] [RIPCORD - the Damage is Done (mp3)] [Clive Barker's Hellraiser Series (scanned comics) [Children of Men (DVD)] [EVILE - Enter The Grave (mp3)] [Earth (DVD)] [Naia] [Uncivilized (zine)] [Anarchy and Alcohol (PDF)] [ARTICLES OF FAITH - Core (mp3)] [Chucky (Child's Play version) action figure] [life, laugh, love]

.


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Wednesday, August 20, 2008
Apa Kata Pakpol?

25 Juli 2008

Saya selalu geli tiap kali ngeliat berita pembunuhan di TV, di acara-acara berita kriminal sebangsa Patroli atau Buser, terutama kalau ada wawancara sama petugas polisi setempat.

Berita: "Ditemukan mayat seorang pria tanpa identitas, penuh luka tusuk (atau bacok, atau pukulan benda tumpul) mengenaskan di sekujur tubuhnya, tergeletak di tengah hutan."

Biasanya (artinya, gak selalu) polisi setempat yang diwawancara suka ngasih keterangan intelek kira-kira kayak gini: "Sejauh ini anggota kami masih melakukan penyelidikan atas penyebab daripada kematian korban. Diduga korban meninggal dunia akibat dibunuh."

Holy sheep. Tentu saja, Pak! Siapa yang butuh seorang Hercule Poirot buat "menduga" kalau mayat yang ditemuin di tengah hutan dengan banyak luka tusuk di sekujur tubuh adalah korban pembunuhan? Apa ada kemungkinan lain, ketusuk ranting pohon, misalnya?

Kata-kata pakpol yang dicetak miring adalah kata-kata yang menurut saya kurang tepat atau bahkan gak perlu ada. Yang paling sering digunain adalah kata "daripada" sebagai pengganti kata "dari", atau seringnya sih gak ngegantiin kata apapun. Selalu panjang dan berbelit-belit. Perhatiin pernyataan pakpol tadi, tanpa kata "daripada" justru jadi lebih enak kan bacanya. Kata-kata "melakukan penyelidikan" juga bisa diganti pake "menyelidiki".

Bukan cuman pakpol yang sering pake gaya bahasa kayak gitu. Kalau kamu perhatiin wawancara-wawancara di tv, ada banyak pejabat juga sering pake gaya bahasa gitu. Saya gak ngerti kenapa bisa ada kemiripan kayak gitu, apa ada hubungannya sama pendidikan yang mereka dapet, atau mereka saling niru setelah saling nonton di tv?


Posted at 04:18 am by tremor

xanggotax
September 1, 2008   12:50 PM PDT
 
maksud kamu 'bahasa kita'?
itu kan emang dikondisikan ketika kita masuk institusi,selain untuk 'menambah wibawa' dan juga mengesankan bahwa kita adalah 'orang dalam'
sudah lah,mari kita razia saja lah.
BurnOut
August 20, 2008   01:18 PM PDT
 
Kalo gak salah sih, kata "daripada" yg salah kaprah itu awalnya dipopulerkan sama Soeharto. Berhubung dia 'sebagai' di era itu otomatis gaya bahasanya ditiru abis sama anak buahnya. Yg paling parah waktu itu si Moerdiono jongos setianya, udahlah ngomongnya dgn kecepatan kura2, nyaris semua kalimat disisipin kata "daripada" yg kurang ajar berlebihannya. Gak usah jauh2, di lingkup kecil kita jg sering kdengeran kan, gimana term yg biasa dipake 'sang raja' suka dipake lg sama kroco2nya. Jadi kalo sampe sekarang kata 'daripada' msh sering kdengeran di kalangan pejabat, kita jd tau dong, kemana arah kiblatnya. Gimana angin bertiup aja, hehe
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry