25 Juli 2008
Saya selalu geli tiap kali ngeliat berita pembunuhan di TV, di acara-acara berita kriminal sebangsa Patroli atau Buser, terutama kalau ada wawancara sama petugas polisi setempat.
Berita: "Ditemukan mayat seorang pria tanpa identitas, penuh luka tusuk (atau bacok, atau pukulan benda tumpul) mengenaskan di sekujur tubuhnya, tergeletak di tengah hutan."
Biasanya (artinya, gak selalu) polisi setempat yang diwawancara suka ngasih keterangan intelek kira-kira kayak gini: "Sejauh ini anggota kami masih melakukan penyelidikan atas penyebab daripada kematian korban. Diduga korban meninggal dunia akibat dibunuh."
Holy sheep. Tentu saja, Pak! Siapa yang butuh seorang Hercule Poirot buat "menduga" kalau mayat yang ditemuin di tengah hutan dengan banyak luka tusuk di sekujur tubuh adalah korban pembunuhan? Apa ada kemungkinan lain, ketusuk ranting pohon, misalnya?
Kata-kata pakpol yang dicetak miring adalah kata-kata yang menurut saya kurang tepat atau bahkan gak perlu ada. Yang paling sering digunain adalah kata "daripada" sebagai pengganti kata "dari", atau seringnya sih gak ngegantiin kata apapun. Selalu panjang dan berbelit-belit. Perhatiin pernyataan pakpol tadi, tanpa kata "daripada" justru jadi lebih enak kan bacanya. Kata-kata "melakukan penyelidikan" juga bisa diganti pake "menyelidiki".
Bukan cuman pakpol yang sering pake gaya bahasa kayak gitu. Kalau kamu perhatiin wawancara-wawancara di tv, ada banyak pejabat juga sering pake gaya bahasa gitu. Saya gak ngerti kenapa bisa ada kemiripan kayak gitu, apa ada hubungannya sama pendidikan yang mereka dapet, atau mereka saling niru setelah saling nonton di tv?
Posted at 04:18 am by tremor
 |  |  |
xanggotax September 1, 2008 12:50 PM PDT
maksud kamu 'bahasa kita'?
itu kan emang dikondisikan ketika kita masuk institusi,selain untuk 'menambah wibawa' dan juga mengesankan bahwa kita adalah 'orang dalam'
sudah lah,mari kita razia saja lah.
|
 |

 |  |  |
BurnOut August 20, 2008 01:18 PM PDT
Kalo gak salah sih, kata "daripada" yg salah kaprah itu awalnya dipopulerkan sama Soeharto. Berhubung dia 'sebagai' di era itu otomatis gaya bahasanya ditiru abis sama anak buahnya. Yg paling parah waktu itu si Moerdiono jongos setianya, udahlah ngomongnya dgn kecepatan kura2, nyaris semua kalimat disisipin kata "daripada" yg kurang ajar berlebihannya. Gak usah jauh2, di lingkup kecil kita jg sering kdengeran kan, gimana term yg biasa dipake 'sang raja' suka dipake lg sama kroco2nya. Jadi kalo sampe sekarang kata 'daripada' msh sering kdengeran di kalangan pejabat, kita jd tau dong, kemana arah kiblatnya. Gimana angin bertiup aja, hehe |
 |