"There's no such thing as right and wrong; just popular opinion."
- Jeffrey Goines, Twelve Monkeys

   

<< September 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30

[ recommended pages ]

Journals, Diaries, Stories, Personal Blogs (in alphabetical order):

Music Related:

Anarchy, Action, Collectives, Philosophy, Campaigns, Terrors, Journals, Zines, Distros, Libraries:

Art, Artists and Galleries:

Mythology, Movie, Serial Killer related + other miscellaneous links:

Personal Shortcut

Last Top (More Than) 10 :

[American Hardcore] [the Joker and the Dark Knight] [RIPCORD - the Damage is Done (mp3)] [Clive Barker's Hellraiser Series (scanned comics) [Children of Men (DVD)] [EVILE - Enter The Grave (mp3)] [Earth (DVD)] [Naia] [Uncivilized (zine)] [Anarchy and Alcohol (PDF)] [ARTICLES OF FAITH - Core (mp3)] [Chucky (Child's Play version) action figure] [life, laugh, love]

.


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Sunday, September 14, 2008
Seni peran

22 Agustus 2008

Saya puas banget waktu liat Joker dalam film ‘Dark Knight’ (DK). Maksudnya, sebelum nonton, saya sempet agak ragu kalau ada orang bisa meranin Joker sejahat Jack Nicholson di film Batman buatan Tim Burton. Jack Nicholson memang lumayan jago meranin peran jahat. Liat aja ‘The Shinning’. Disana, kita bisa liat dengan jelas beda ekspresi matanya waktu dia jadi ayah dan waktu dia kerasukan. Dan waktu dia meranin Joker di ‘Batman’-nya Tim Burton, mata jahatnya keliatan klop banget sama seringai lebarnya. Jahat dan licik banget. Itu yang bikin saya agak ragu tentang Joker dalam DK. Apalagi saya belum pernah liat trailernya atau cari tau di internet sebelum saya pergi nonton DK. Keragu-raguan saya: mampu keliatan jahat gak Joker dalam DK?

Tapi waktu saya akhirnya tonton DK, Joker disitu bukan cuman keliatan jahat, tapi lebih dari itu, psikopat. Dan saya jadi sadar kalo emang kayak gitulah seharusnya Joker dan semua calon penghuni Arkham Asylum lainnya: bukan sekedar penjahat. Heath Ledger sangat berhasil meranin Joker. Terlepas dari dialog, intonasi dan gerak tubuhnya yang saling cukup sempurna, dia juga tau kapan waktunya matanya harus ngekspresiin kegilaan, dan kapan waktunya ngekspresiin kesan jahat. Bravo buat Heath Ledger.

Hal yang pengen saya bahas disini adalah, beda antara seni peran yang bagus dan sampah. Apa yang saya sering temuin dari film-film produksi lokal adalah sampah. Terutama sekali sinetron. Gimana cara ngebedainnya? Salah satunya adalah lewat ekspresi mata si pemain. Seorang dosen saya pernah nyeletuk tentang hal ini, dan setelah dipikir-pikir, ada benernya juga bajingan itu.

Dengan kepercayaan diri dan banyak latihan, tubuh dan kata-kata bisa berakting, buat berpura-pura. Tapi mata adalah salah satu bagian tubuh yang paling sulit buat berakting. Itu yang jarang saya temuin di film lokal. Coba liat ‘Silent of the Lamb’. Gak perlu dikasih tau, dari matanya aja kita tau kalo Dr.Hannibal Lecter adalah tokoh sadis, walaupun tokoh antagonis film itu adalah Buffalo Bill. Mata Anthony Hopkins gak perlu mendelik-delik dan melotot-melotot berlebihan kayak peran ibu tiri di film lokal buat ngasih liat ke penonton betapa jahatnya dia. Bayangin apa jadinya film ‘the Matrix’ kalau Agent Smith harus mendelik-delik dan manggut-manggut sambil ngomong sendiri tentang suatu rencana jahat kayak peran picik di sinetron.

Tapi tergantung dari plot ceritanya juga. Dalam beberapa kasus, kalau bisa akting mata jangan terlalu diumbar. Misalnya dalam film-film misteri dan detektif. Kan gak seru banget kalau dari awal kita udah bisa nebak siapa Zodiac Killer sebenernya dalam film ‘Zodiac’, Jigsaw Killer dalam ‘Saw I’, atau John Doe di film ‘Se7en’. Yang penting adalah, tau kapan akting mata harus digunain. Dan yang lebih penting lagi: harus tau bates..jangan berlebihan.

Cara lain untuk ngebedain seni peran dan sampah adalah lewat gimana cara nyampein satu cerita ke penonton (kecuali buat film-film yang sengaja dibikin rumit ya). Patokannya adalah, bisa gak penonton ngerti jalan cerita tanpa perlu dikasih liat terlalu banyak penjelasan lisan dari mulut para pemerannya. Ini yang paling ngeganggu buat saya. Karena gagal ngejelasin satu alur cerita, kadang peran-peran film lokal sering bicara sendiri kayak orang skizofrenia. Dan sialnya, tanpa akting tolol itu, penonton gak akan ngerti jalan ceritanya. Penonton bener-bener dijelasin secara lisan sama si pemeran. Padahal bisa aja pake narasi kayak yang ‘Fight Club’ lakuin, gak perlu bicara sendiri gitu kan.

Jujur aja, seharusnya saya gak boleh nulis postingan ini karena sebenernya saya kurang referensi film lokal. Tapi mau gimana lagi. Mumpung ini blog personal dan bukan karya ilmiah, ya gatel aja rasanya kalo gak ngeluarin suatu uneg-uneg. Saya kapok nonton film lokal sejak dikecewain sama film ‘Jalangkung’ plus sequelnya yang luar biasa jelek. Dua kali ketipu sama rekomendasi dan janji-janji, langsung bikin saya kapok hehe.. Bahkan ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang legendaris itu aja belum pernah saya tonton. Tapi dari apa yang saya denger, ada banyak peran lokal yang bagus juga, yang udah ninggalin bahasa tubuh yang berlebihan dan bicara sendiri. Katanya ‘Arisan’ bagus. ‘Janji Joni’ dan ‘Gie’ juga bagus. Yang pasti saya belum denger respon bagus tentang film ‘Tiren’ atau film horror lainnya.

Yah ini cuman tulisan iseng ngisi kekosongan aja. :D


Posted at 03:16 am by tremor

darwid
October 2, 2008   04:19 PM PDT
 
wacana tentang tubuh, termasuk tubuh di film perlu dibarengi dengan wacana tubuh-tubuh di arena seni pertunjukan yang sifatnya ephemeral.

tubuh difilm sangat direpresi kamera
sadish
September 24, 2008   01:57 PM PDT
 
kalo menurut aku joker ala Nicholson tuh lebih karikatur, kulit putih dicelup, kostum oldskul, yah standar joker....meanwhile Ledger lebih seger, lebih sinis, lebih sedikit ketawanya, straight in your face, pake make-up tapi kesannya malah lebih ga peduli sama diri sendiri, so joker baru, interpretasi baru....melenceng dari pakem, beda ama joker oldskul. Yg aku seneng dari joker baru tuh ga ada upaya buat nyeritain proses transformasi dia, jadi lebih misterius...voicingnya juga baru, top dah...somehow the new joker reminds me of the crow :D but overall, karakter apapun, aku lebih seneng kalo ada interpretasi baru, alangkah boringnya kalo ngulang2 james bond yg komikal ato joker yg dandy :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry