"There's no such thing as right and wrong; just popular opinion."
- Jeffrey Goines, Twelve Monkeys

   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

[ recommended pages ]

Journals, Diaries, Stories, Personal Blogs (in alphabetical order):

Music Related:

Anarchy, Action, Collectives, Philosophy, Campaigns, Terrors, Journals, Zines, Distros, Libraries:

Art, Artists and Galleries:

Mythology, Movie, Serial Killer related + other miscellaneous links:

Personal Shortcut

Last Top (More Than) 10 :

[American Hardcore] [the Joker and the Dark Knight] [RIPCORD - the Damage is Done (mp3)] [Clive Barker's Hellraiser Series (scanned comics) [Children of Men (DVD)] [EVILE - Enter The Grave (mp3)] [Earth (DVD)] [Naia] [Uncivilized (zine)] [Anarchy and Alcohol (PDF)] [ARTICLES OF FAITH - Core (mp3)] [Chucky (Child's Play version) action figure] [life, laugh, love]

.


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, August 15, 2008
beberapa komentar atas komen-komen yang masuk

Dari komen yang ada di postingan "apa persamaan antara anjing peliharaan dengan manusia?"

Tadinya saya tulis di box komen, tapi karena ternyata jadi panjang kemana-mana, ya udah saya masukin sini aja.

"kenapa saat manusia dianggap buruk levelnya jd disamain dgn anjing ato babi ya?" (dari BurnOut)
---> ga tau juga ya kenapa. Mungkin karena buat kebanyakan manusia, anjing dan babi itu dianggep spesies yang lebih rendah derajatnya, dan menjijikkan. Mungkin itu opini turun temurun juga yang trus ikut diturunin sama agama-agama yang sekarang populer. Agama Yahudi (sebelum lahir agama Kristen dan Islam, jadi udah agak lama juga) udah ngelarang penganutnya makan babi dan anjing, karena daging mereka haram. anggapan kayak gitu ngasih sedikit gambaran dimana posisi anjing dan babi..

"Tapi Ong, manusia tetep nggak bisa kayak anjing yang setia dan mencintai tuannya apa adanya tuh." (dari M)
--> Mungkin mencintai sih gak saya ga tau, tapi kalo sekedar setia mah bisa aja kok. banyak kok mereka yang bisa setia sama tuannya. "Tuan", dalam hal ini kan mereka yang melihara, ngasih makan, dan ngasih tempat tidur (karena kita ngomongin tuannya anjing sebelumnya. Pemilik anjing. Bukan pacar atau sahabat kan ya.) Banyak orang bisa setia sama tempat mereka kerja, sama bos, sama atasan, sama bendera, sama pemodal, wah banyak deh hehe.. Sancho Panza bisa setia sama Don Quixote, dan jangan lupa kalo Tom Hagen juga setia banget sama keluarga Corleone.. eh ngomong2, tau darimana anjing punya perasaan cinta sama tuannya? apa rasa cinta manusia sama sama yang anjing rasain? atau itu lagi2 cuman sekedar maksain standar kita buat spesies lain? kita pikir mereka mencintai kita, karena kalau anjing aja ga cinta sama kita, menyedihkan sekali hidup kita hehe..

"... andai binatang2 itu bisa ngomong ya." (dari -va-)
--> nah kalo mereka bisa ngomong, mungkin pertama kita bakal lari karena kaget, trus kita bisa obrolin dan saling curhat, sambil nyari tau apa mereka keberatan sama kelakuan kita hehe..


oya, saya punya cerita, dulu pernah ada anjing jalanan yang, karena sering kita kasih makan, jadi semacam "peliharaan" buat keluarga saya. Kita kasih nama Timu. Setiap kali ibu saya pergi ke rumah tetangga, Timu selalu ngebuntutin dan nungguin di luar rumah tetangga sampe ibu saya keluar lagi. Timu selalu nemenin ibu saya jalan kaki pulang sampe ke rumah. Setelah bertaun-taun hidup di sekitar rumah kita, suatu hari Timu gak keliatan lagi batang hidungnya. Ibu saya khawatirnya minta ampun, trus sampe sore dia nyariin Timu di sekitar rumah. Timu gak pernah dateng lagi, dan ibu saya nangis.

Posted at 09:25 pm by tremor
Comment (1)  

Wednesday, August 13, 2008
apa persamaan antara anjing peliharaan dengan manusia?

11 Agustus 2008

Kebanyakan dari kita ngurus anjing sejak mereka masih kecil.
Kebanyakan dari kita ngasih mereka nama (bahkan terdapat semacam akte kelahiran buat jenis "anjing ras").
Kebanyakan dari kita ngasih mereka vitamin-vitamin dan obat-obatan kimiawi, supaya daya tahan tubuhnya lebih kuat ngelawan penyakit, karena makanan yang kita produksi buat mereka gak mencukupi kebutuhan gizi mereka.
Kebanyakan dari kita nyediain mereka tempat tidur dan rumah anjing yang "nyaman".
Kebanyakan dari kita ngebeliin mainan tulang-tulangan berbahan karet, supaya mereka gak gigitin sepatu kita.
Kita ngajak mereka main, jalan-jalan di sekitar rumah.
Kita bawa mereka olahraga sesekali dan terjadwal.
Kita mandiin, kita sediain berbagai sabun dan shampoo khusus buat ngerawat kulit dan rambutnya.
Kita ajak mereka berbicara.
Kita nularin beberapa penyakit tertentu dan kita bawa mereka ke dokter khusus waktu terjadi masalah kesehatan yang cukup serius.
Kita kawinin mereka dengan spesies sejenis sesekali.
Bahkan kita bawa mereka ke salon khusus buat dapet perawatan rambut/kulit dan kita sebut mereka cantik setelah itu.
Kita ngeliat potensi tertentu dalam hewan peliharaan mereka, potensi yang bisa digunain untuk ngasih keuntungan tertentu bagi pemiliknya.
Kita jadiin mereka sebagai komoditi. Kita kawinin mereka supaya anak-anaknya bisa kita jual.
Kita ajarin mereka beberapa trik, mendidiknya, bahkan kita bawa mereka ke sekolah-sekolah khusus supaya bisa belajar tentang disiplin, perintah, hukuman dan penghargaan. Ironisnya, para pengajar di sekolah anjing adalah manusia.
Kita dandanin dan ajarin trik-trik tertentu trus kita bawa mereka ke beberapa kontes atau lomba.
Kita ngajarin mereka jadi anjing penjaga rumah yang nurut sama tuannya dan nyerang orang asing yang mencurigakan, dalam rangka ngejagain harta benda manusia.
Kita jadiin mereka bagian dari militer dan polisi.
Kita gunain mereka dalam arena perjudian, kita latih mereka jadi petarung buat kebutuhan "hiburan" (adu bagong, adu anjing) atau bahkan atlet (dalam lomba pacu anjing, misalnya).

Mungkin karena..

Kita juga dikasih nama dan diharuskan punya akte kelahiran karena salah satu ketakutan terbesar manusia adalah tidak memiliki identitas.
Kita mengkonsumsi pil-pil multivitamin dan obat-obatan kimiawi, supaya daya tahan tubuh kita lebih kuat buat ngelawan penyakit, karena makanan yang kita produksi hari ini udah gak mencukupi kebutuhan gizi kita.
Kita menuntut tempat tidur.
Kita juga dibeliin mainan, misalnya mainan peralatan masak-masakan, supaya kita gak ngerusak peralatan masak ibu kita.
Kita juga diajak main, jalan-jalan di sekitar rumah.
Kita juga diajarin berolahraga sesekali dan terjadwal, bahkan jadi jadwal khusus sejak masih di sekolah.
Kita mandi dengan berbagai sabun dan shampoo khusus buat ngerawat kulit dan rambut karena kita nyiptain konsep "kecantikan". Bahkan kita memproduksi sekaligus mengkonsumsi krim-krim pemutih kulit, pelembab, obat jerawat, supaya bisa disebut cantik.
Kita memproduksi dan saling nularin penyakit-penyakit tertentu dan kita pergi ke dokter khusus waktu terjadi masalah kesehatan yang cukup serius.
Banyak dari kita juga dikawinin, dijodohin, dipaksa kawin karena itu adalah sesuatu yang mereka sebut "sudah seharusnya".
Kita juga pergi ke salon-salon khusus buat dapet perawatan rambut/kulit.
Kita ngeliat potensi tertentu dari sesama kita, potensi yang bisa kita gunain buat ngasih keuntungan tertentu bagi kita.
Kita dijadiin komoditi. Kita juga saling kawin supaya anak-anak kita bisa kerja upahan di bawah kontrol orang lain, beranjak mapan di kemudian hari dan bisa ngebiayain hari tua kita.
Kita diajarin beberapa trik, dididik, dan dibawa ke sekolah-sekolah khusus supaya kita bisa belajar tentang disiplin, perintah, hukuman dan penghargaan.
Kita didandanin dan diajarin trik-trik tertentu trus dibawa ke beberapa kontes atau lomba.
Kita dilatih untuk dijadiin penjaga rumah dan lingkungan yang nurut sama majikannya, ngejagain harta benda tuan kita, kita jadi satpam, polisi, tentara.
Kita dilatih jadi petarung buat kebutuhan "hiburan" dalam perlombaan tinju dan taekwondo yang disponsorin produk-produk minuman berenergi, dan jadi atlet dalam pertandingan sepak bola, atau badminton yang disponsori berbagai produk dari mulai TV flat sampai ke sepatu.

Kita nentuin standar kebahagiaan seekor hewan peliharaan, lewat tercukupinya semua kebutuhan, apa yang kita sebut sebagai kebutuhan primer: sandang, pangan, papan. Itu adalah standar "kesejahteraan" ciptaan kita sendiri, yang kesemuanya melulu tentang fisik. Padahal hidup itu lebih dari sekedar pemenuhan fisik. Tapi asumsi bahwa banyak uang = kebutuhan tercukupi = bahagia, udah terlalu kuat nempel di benak kebanyakan orang. Seakan-akan ada patokan tak tertulis, makin kita punya dan belanja banyak barang, semakin kita bahagia. Apa bener itu yang dinamain bahagia?

Dengan standar kebahagiaan semacam itu, ada banyak hewan peliharaan hidup di bawah kondisi yang kita sebut "manusiawi". Dan contoh yang ada disini tadi adalah hewan hasil domestikasi yang paling populer dan dekat dalam keseharian kita: anjing. Banyak "pemilik" anjing mencukupi semua kebutuhan fisikal hewan peliharaannya, nyediain makan dan tempat berteduh, dan oleh karena itu, kita sebut "manusiawi". Pernah denger kan kata-kata "Dia bahagia disini, karena selalu ada makanan buat dia disini. Selalu ada yang ngajak dia main dan jalan-jalan", walaupun dengan rantai tentu saja. Itu agak mirip sama nasehat orang-orang bijak di sekitar kamu, "seharusnya kamu bahagia, semua kebutuhan (fisikal) kamu udah tercukupi. Kamu punya jabatan yang enak, uang banyak, istri cantik, anak berprestasi di sekolah. Kurang apalagi?" Dan bukan cuman standar kebahagiaan kayak gitu aja yang kita terapin secara paksa, tapi juga gaya hidup. Gak heran banyak anjing terkena penyakit-penyakit manusia modern seperti diabetes dan kolesterol. Kita mereduksi arti kata bahagia, dan menerapkannya pada semua spesies yang ada.

Jadi apa salah satu kesamaan paling mendasar antara kita dan anjing peliharaan? Kita sama-sama makin jauh terasing dari hakekat kita sebagai bagian dari alam, sebagai mahluk liar yang bebas. Dan sama seperti spesies yang telah terdomestikasi selama ratusan tahun lainnya, mungkin di alam bebas banyak dari kita yang gak mampu lagi bertahan hidup, karena insting-insting alamiah dan kemampuan-kemampuan survival mendasar yang kita punya udah semakin terkikis satu persatu. Berapa banyak diantara kita yang bisa bikin api tanpa korek api?


Posted at 01:36 am by tremor
Comments (3)  

Tuesday, August 12, 2008
Sadisme dan homoseksual

14 Agustus 2008

Sebagai salah satu peminat kisah-kisah pembunuh serial dan kasus-kasus pembunuh psikopat, saya sebenernya kepingin nulis sesuatu buat ngomentarin apa yang belakangan sempet heboh, tentang Ryan dari Jombang. Tapi ga tau kenapa, apa mungkin karena kasusnya udah kelamaan, kurang nendang dan udah terlampau heboh, saya jadi agak males ngebahasnya.

Sebelum terlalu jauh, saya ngeliat kata-kata "pembunuhan berantai" yang sering digunain media massa buat ngegambarin kasus Ryan itu kurang tepat. Coba bandingin sama frase "surat berantai", dimana saya dapet surat yang harus saya sebarin lagi ke orang lain. Intinya adalah, gak cuman dilakuin sama seorang, tapi "korban" juga harus ngelakuin hal yang sama. Kalau surat ditulis cuman sama satu orang dan dikirim ke banyak orang yang berbeda, itu bukan berantai, melainkan "surat massal". Itupun kalau dilakuin dalam waktu yang sama. Itu bisa diaplikasiin dalam "pembunuhan massal", atau "sunatan massal" atau "kawin massal". Tapi sekali lagi, pembunuhan yang dilakuin sama Ryan juga bukan pembunuhan massal (mass murder) karena dia ga ngebantai semua korbannya di waktu dan tempat yang sama. Contoh dari mass murder adalah kasus Bom Bali dan pembantaian di Colombine. Sementara itu, "pembunuhan serial" juga gak bisa (atau belum bisa) diaplikasiin dalam kasus Ryan, karena beberapa ciri dari apa yang disebut sebagai pembunuhan serial salah satunya adalah: korban adalah orang yang asing bagi pelaku. Dalam pembunuhan serial juga terdapat semacam "jeda" yang biasanya disadarin sama masyarakat, dan hal itu yang bikin teror tersebar. Jeda ini biasanya merupakan masa "cooling off" antara satu pembunuhan dengan pembunuhan lainnya. Itu adalah waktu dimana polisi dan masyarakat menunggu-nunggu kapan pembunuhan berikutnya terjadi. Contoh dari serial killer adalah kisah nyata dari Zodiac Killer atau kisah fiktif seperti dalam film Se7en. Jadi, kasus Ryan juga kurang tepat masuk ke kategori ini. Jadi untuk sementara kita sebut aja kasusnya sebagai kasus pembantaian biasa.

Dalam masyarakat kita yang homophobik ini, apa yang dibesar-besarkan sama media tentang kasus Ryan adalah orientasi seksualnya. Itu yang bikin Ryan sempet jadi pusat perhatian infotainment. Saya sempet liat salah satunya, dan dalam postingan kali ini saya cuman pengen ngutip pendapat dari dua "selebritis" yang berbeda tentang hubungan antara kecenderungan homoseksualitas Ryan.

Pendapat pertama adalah, kira-kira kayak gini:

"Jangan sampai kita nyerang komunitas tertentu cuman gara-gara Ryan adalah anggota dari komunitas tersebut. Itu ga ada hubungannya. Yang ngelakuin kan Ryan, dan yang sadis itu Ryan. Itu ga ada hubungannya sama dari komunitas mana dia berasal, jadi jangan digeneralisir gitu aja. Bisa siapa aja bisa yang ngelakuin pembunuhan kayak Ryan."

Komunitas yang dimaksud tentu saja adalah komunitas gay, dan pendapat itu keluar dari mulut Julia Perez. Pendapatnya cukup logis ya?

Pendapat kedua kira-kira isinya kayak gini:

"Itu kan salah masyarakat sendiri, karena masyarakat udah bersikap permisif terlalu jauh sama mereka: sama homo, waria, dan semua urusan perbencongan itu (sambil ngasih liat mimik jijik kayak yang lagi megang tai anget). Coba liat, sekarang peran jadi bencong makin sering kita liat di TV. Anak-anak kita juga udah makin nerima hal-hal kayak gitu sekarang."

Lewat kata-kata "permisif terlalu jauh", pendapat di atas seakan-akan pengen ngedorong orang buat ngelakuin semacam pengucilan sosial terhadap para LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Kalimat pertama juga ngasih liat kalau pendapat ini pengen bikin masyarakat berpikir kalau sadisme dan semua hal negatif itu sangat ada hubungannya sama kecenderungan homoseksual. Dari mimik mukanya, jelas dia pengen hal-hal yang dia anggap menjijikan itu dibersihin. Kata-kata itu keluar dari seorang ustadz-seleb muda, berinisial J alias Jefri.

Ya, memang udah cukup jelas kalo dua orang tadi megang dua nilai dan moral yang berbeda. Jadi memang gak bisa didebatin. Saya cuman gatel aja pengen nulis ini, ga tau kenapa. Mungkin cuman pengen nulis pendapat juga, kalo pendapat Julia Perez jauh lebih logis buat saya.

Buat tulisan yang fokus ke homosexual atau serial killer, suatu hari bakal diposting juga. sampe disini dulu aja yang sekarang :D

Posted at 01:35 am by tremor
Comments (3)  

Monday, August 11, 2008
mari berolahraga!

10 Agustus 2008

Sekarang udah jam 2 lebih 26 menit, subuh, dan saya belum bisa tidur. Udah beberapa minggu terakhir jam tidur saya kembali kacau, kayak dulu waktu nganggur, saya tidur jam 5 atau 6 pagi, saat kebanyakan orang baru atau udah bangun untuk memulai aktifitasnya. Sebenernya saya menikmati suasana di pagi hari, waktu matahari baru aja muncul. Apalagi ini Bandung, dimana pagi-pagi masih kerasa dingin.

Dinginnya pagi hari, suara-suara kicau burung, langit yang temaram, enak banget. Biasanya ada tambahan suara teriakan tukang roti, bubur atau sayur yang lewat depan rumah, tapi itu ga terlalu ngeganggu. Saya pernah sengaja nongrkong di teras depan rumah buat nikmatin suasana pagi. Sepasang kakek-nenek biasanya lari pagi lewat depan rumah sambil gandengan tangan. Udah berapa lama kira-kira mereka hidup bareng? 40 taun? 50 taun? Atau mungkin baru aja saling kenal seminggu yang lalu di jalur lari pagi mereka?

Dulu, masih suka ada anjing liar (liar di kota) berkeliaran di sekitar rumah, mereka biasanya ngendus-ngendus dan bongkar-bongkar tempat sampah, trus lari menjauh dengan ekor tertunduk di antara dua paha belakang mereka setiap kali ada orang lewat. Enak banget suasana pagi-pagi. Harusnya kerasa seger. Apalagi sambil jemur di bawah sinar matahari pagi. Sayangnya saya baru mau tidur, bukannya baru bangun. Jadi apa yang saya rasain adalah ngantuk, mata pedes dan nguap-nguap terus.

Yang saya alamin tentu saja bukan insomnia. Saya masih bisa tidur pules, seperti bayi kalau kata Jack dalam Fight Club. Saya masih bisa tidur lama, bisa sampe 8 jam. Cuman waktunya aja geser. Bangun siang jam 1 atau jam 2 itu gak enak banget. Biasanya saya bangun jam segitu dengan kepala sakit, mata pusing, dan tubuh basah kuyub karena keringat. Kebetulan atap kamar saya berbahan asbes, dan asbes itu menyerap panas. Jadi, pastinya hawa di kamar saya panas banget kalau siang. Untung aja atapnya bukan seng. Tembok kamar saya adalah batu bata yang gak diplester lagi pake beton atau semen. Gak seburuk itu kok, dinding saya diwarna biru. Tapi bukan karena saya penggemar persib ya. Bahkan sepak bola aja saya gak suka. Nah, mulai kemana-mana lagi ceritanya. Batu bata dan dinding-dinding berbahan batu lainnya, juga menyerap panas, kecuali kita plester pake beton. Katanya, panas yang diserap dinding batu bakal bertahan lama, sampe malem. Jadi panas yang diserap dan disimpen batu bakal dilepas di malam hari, dan itu bisa bikin malam yang dingin gak terlalu kerasa dingin. Saya tau hal itu dari kakak saya yang lulus kuliah sebagai arsitek. Mungkin dia dapet teori itu dari studinya dulu. Dia juga cerita kalau itulah alesan kenapa jaman dulu banyak rumah-rumah di timur tengah sana berbahan batu, karena malam hari disana bisa bikin beku tanpa bantuan hangatnya batu. Padahal kakak saya belum pernah ke timur tengah. Yang saya gak ngerti, batu bata kan bukan bener-bener batu dalam artian terbentuk secara alamiah, jadi gimana bisa disamain sama rumah-rumah yang dibuat dengan cara ngerokin gunung batu?

Sebelum makin jauh, mari kembali ke cerita saya. Saya ulang aja hehe. Bangun siang jam 1 atau jam 2 itu gak enak banget. Biasanya saya bangun jam segitu dengan kepala sakit, mata pusing, dan basah kuyub karena keringat. Panas banget. Bantal biasanya basah kuyub, bukan karena air liur tapi karena keringet. Saya pengen bisa bangun lebih pagi. Gak usah terlalu muluk, bisa bangun alami jam 9 atau jam 10 aja saya udah seneng. Beda lagi kalau bangun pagi karena terpaksa, harus kuliah misalnya. Bangun terpaksa juga bikin sakit kepala.

Yang paling menyebalkan adalah, saat saya harus nyesuain hidup saya sama hidup orang lain. Sering banget rencana saya kacau gara-gara bangun kesiangan, karena semua orang beraktivitas cuman sampe sore. Pergi ke kampus, udah ga ada orang. Telat masuk kelas. Ada perlu ke kantor pos, bank, toko alat tulis, bengkel, selalu telat. Kesorean, kesorean dan kesorean. "Udah tutup, besok aja kesini lagi."

Ohya, dan mumpung masih sisa-sisa kemarau, pasti menyenangkan ada di luar rumah saat langit cerah gak berawan. Bukannya tertidur pulas bermandikan keringet di kamar yang kayak ruang sauna ini.

Saya harus lakuin sesuatu supaya saya bisa tidur lebih cepet.

Mungkin saya perlu olahraga. Bukan supaya sehat, tapi supaya fisik saya lebih capek dari biasanya. Saya udah janji sama diri saya sendiri, saya bakal mulai berolahraga dalam minggu ini. Yang kebayang sekarang sih baru lari kayak yang saya lakuin secara rutin 2 taun kemarin selama beberapa minggu, atau mungkin berenang sesekali. Bersepeda asik juga, tapi sepeda BMX saya udah bener-bener ga keurus sejak posisinya udah digantiin sama motor. Hampir seluruh body-nya dipenuhin sama karat. Belum lagi as rem nya patah. BMX model gitu juga kurang tepat buat dipake "exercise" karena pengemudinya bisa sekarat kalau kena tanjakan yang agak panjang. Joknya keras pula, tanpa bantalan. Ambeyen.

Biasanya orang-orang sering ngartiin olahraga sebagai padanan kata dari bahasa Inggris "sport". Padahal sport itu bukan olahraga itu sendiri, melainkan sebuah permainan atau aktivitas yang bersifat kompetitif, yang melibatkan pengerahan tenaga fisik (melibatkan olahraga). Dalam bahasa Inggris, ada "sport" dan ada juga "exercise". Exercise sendiri bisa diartiin sebagai aktivitas yang membutuhkan usaha fisikal untuk tujuan kesehatan dan kebugaran (kamus Oxford), yang kayaknya lebih tepat kalau dipadankan sama aktivitas khusus berupa olahraga dalam bahasa Indonesia. Jadi bukan olahraganya yang bahasa inggrisnya sport, melainkan aktivitas kompetisinya. Lombanya, kejuaraannya, dll. Kalau saya lari pagi keliling komplek secara rutin atau pergi berenang, itu bukan sport. Kalau saya lari keliling komplek bareng temen dan kita balapan, itu baru sport, karena ada kompetisi disitu. Ah ya, jadi kepikiran, ada satu lagi penggunaan kata yang kurang tepat yang sering dipake sama orang-orang, termasuk saya: fitness. Contoh kalimat: "Saya pergi fitness seminggu sekali," atau "Saya akan pergi ke tempat fitness." Padahal kalau dipikir-pikir, fitness itu bukan kata kerja, jadi rasanya kata-kata "pergi fitness" atau "tempat fitness" itu kurang tepat. Nah nah, mulai kemana-mana lagi obrolannya. Kenapa saya tulis sedikit beda antara sport dengan exercise, adalah karena saya kepikiran sesuatu tentang olahraga yang bukan sport, dan lebih berat ke exercise. Jadi mari kita tinggalkan pelajaran vocabulary bahasa Inggris tadi, dan balik ke niat awal.

Apa itu olahraga? Olah raga, mengolah raga. Kalau dipikir-pikir, ide bahwa olahraga adalah sebuah kegiatan khusus itu agak aneh, mengingat seharusnya kegiatan mengolah raga adalah salah satu bagian alamiah yang gak terpisah dari kehidupan sehari-hari spesies berkaki kayak kita dan spesies lainnya. Seekor singa ngejer rusa, monyet manjat pohon buat metik biji-bijian, apa bisa kita sebut mereka lagi berolahraga? Bahkan, karena olahraga adalah sesuatu yang seharusnya alamiah, kegiatan semacam itu mungkin gak perlu nama khusus seperti kata "olahraga" itu sendiri. Seharusnya berlari, berenang, berjalan, melompat, dll, adalah bagian dari hidup sehari-hari dan beberapa elemen dalam bertahan hidup. Dan kalau semua elemen itu kita pada apapun yang kita lakuin sehari-hari, otomatis raga kita terolah. Gak perlu lagi kegiatan khusus buat ngelakuin hal itu. Tapi tentu saja, tidak bagi mahluk yang udah terdomestikasi kayak kita.

Sekarang kita jadiin olahraga sebagai kegiatan khusus, yang perlu nama, tempat dan waktu yang khusus pula. Sebagian orang punya waktu khusus yang terjadwal, cuman buat lari, atau bahkan jalan kaki. How pathetic is that? Yang lebih menyedihkan lagi adalah, saya berencana untuk bergabung minggu ini.

Pertanyaan pertama, kenapa manusia modern perkotaan ngejadiin hal yang alamiah, yang kita sebut "olahraga" itu, sebagai satu kegiatan khusus? Di jaman "modern" ini, manusia pergi dari satu tempat ke tempat lain pake mesin dan alat bantu lain, teknologi yang memungkinkan otot dan tubuh kita nyaris gak perlu terlalu banyak gerak selain buat nginjek pedal rem dan gas, atau ngegerakin jari buat nyegat angkot, atau berdiri agak lama buat ngantri masuk ke dalam bus TransJakarta (yang anehnya orang sebut sebagai Busway, padahal busway bukanlah jenis/nama dari bus, tapi nama jalur khususnya). Mungkin itu penyebab kenapa sebagian orang jadi berolahraga pake mesin juga, lari di atas treadmill, misalnya, atau beli peralatan-peralatan "canggih" yang sering kita liat demonstrasinya di TV. "Anda tidak perlu pergi kemanapun untuk mendapatkan tubuh yang sehat," katanya. Dan mereka sebut itu sebagai inovasi revolusioner.

Dalam insting bertahan hidup paling mendasar sekalipun, kayak nyari makan misalnya, kita tinggal pergi ke satu tempat dimana udah tersedia semua yang kita butuhin, selama kita punya uang tentu saja. Kita ga perlu lagi ngendap-ngendap dan ngejer-ngejer hewan buruan, karena ada orang lain yang kita upah untuk ngurus pembiakan sapi dan ayam siap potong di peternakan-peternakan. Kita ga perlu lagi metikin biji, buah dan daun-daun bahan makanan, kita ga perlu lagi ngorek-ngorek tanah buat dapetin umbi-umbian, karena udah ada orang lain yang kita upah buat ngerjain kerjaan-kerjaan "otot" kayak gitu dengan sistem pembiakan yang sama kayak di peternakan. Pake mobil, motor atau angkot, kita tinggal pergi ke supermarket, pasar, warteg, restoran-restoran dari yang biasa sampe yang cepat-saji buat menuhin kebutuhan perut. Kalau lebih males lagi, tinggal angkat telepon, dan pesen makanan buat langsung dianter ke rumah. Tentu saja, di dunia yang otot cuman perlu dipake pada waktu-waktu tertentu, cepat atau lambat bakal lebih banyak lagi orang yang lumpuh. Tinggal beli kursi roda, kalau bisa yang digerakin pake mesin, jadi ga perlu lagi ada orang lain yang "berolahraga" dorongin kursi roda kita. Mereka yang gak akan lumpuh mungkin adalah mereka yang diupah buat nebangin pohon-pohon di hutan, ngebangun jalan raya dan gedung-gedung perkantoran di atasnya, manenin padi, merah susu sapi, nyangkulin tanah, karena mereka secara rutin terus ngegunain fisik mereka. Mereka mengolah raga mereka setiap hari.

Jadi, dengan segala ke-instan-an dan ke-otomatis-an hidup, tubuh kita makin jarang gerak. Mengolah raga jadi sesuatu yang asing buat kita, sesuatu diluar diri kita dimana kita pikir perlu minat khusus pula buat ngelakuinnya. Mungkin suatu hari kita perlu minat khusus juga buat ngorek hidung pake jari kita sendiri. Makanya manusia bikin olahraga jadi suatu kegiatan khusus, yang perlu waktu dan tempat tertentu, karena olahraga udah bukan lagi bagian dari kehidupan kita, manusia modern perkotaan.

Kenapa butuh waktu khusus buat olahraga? Mungkin karena manusia udah terlalu sibuk. Kita terlalu terbiasa hidup pake rutinitas dan jadwal, dimana semua hal ada waktu khususnya. Sialnya, kadang bukan diri kita sendiri yang nentuin jadwal buat kita. Malem minggu buat pacaran, hari minggu bersantai-santai, senin sampe sabtu kerja atau sekolah. Libur bersama hari anu dan anu. (Mungkin itu penyebab kenapa setiap tanggal merah atau weekend kota Bandung jadi lautan mobil, karena semua orang punya waktu libur yang sama, dan semua orang pengen "refreshing" sebelum masuk kerja lagi nanti.) Dari kecil kita udah kebiasa untuk hidup teratur kayak gitu. Bangun jam sekian, pergi ke sekolah jam sekian, pulang jam sekian, bikin PR jam sekian, main jam sekian, sebelum magrip harus udah pulang kalau ga mau dimakan wewe gombel, makan malem jam sekian, boleh nonton tv jam sekian, tidur jam sekian. Apa kata tetangga kalau kita pulang subuh? Upacara bendera tiap hari anu, pelajaran praktek tiap hari anu, Kerja lebih parah lagi. Masuk jam sekian, istirahat jam sekian, pulang jam sekian. Jadi, gak begitu aneh kalau akhirnya orang-orang yang punya minat untuk mengolah raganya, juga nentuin pergi lari setiap hari anu jam sekian, atau ke tempat "fitness" (saya gak nemu kata pengganti yang tepat, jadi biarlah saya ikut kalian, tetep pake kata fitness hehe) setiap hari anu jam sekian, karena bukan kita lagi yang nentuin hidup kita sendiri. Toh kita udah dibiasain dari kecil, di sekolah dulu. Pelajaran olahraga tiap hari anu jam sekian, dan Senam Kesehatan Jasmani tiap hari anu jam sekian. Jangan sampai mengorek hidung pun jadi harus ada waktu khususnya. Saya bukan mau bilang kalau jadwal dan keteraturan waktu itu gak penting. Tapi siapa yang nentuin jadwal kita? Bahkan banyak orang yang makan bukan karena udah laper, tapi karena "udah jamnya."

Kenapa butuh tempat khusus buat olahraga? Mungkin karena kita bikin tempat khusus pula buat semua hal dalam geografi perkotaan. Berenang di kolam renang, mancing di kolam buatan, pengen keliatan nyeni tinggal ke galeri, nongkrong di café atau mall, ngajak main anak di Jump n Gym atau Time Zone, pengen liat langsung hewan "liar" di kebun binatang (dengan tanda kutip, karena mereka udah ga bener-bener liar disana. Kita juga nentuin jadwal buat mereka, jadwal makan contohnya). Bahkan ada yang namanya lokalisasi pelacuran, ada penjara, ada jalan raya, ada "daerah hijau" berupa taman-taman buatan lengkap dengan kolam buatannya, ada kebun strawberi supaya kita bisa "makin dekat sama alam" dengan cara metik strawberi langsung pake tangan kita sendiri. Liat, betapa terasing dan menyedihkannya kita, buat pengalaman metik strawberi aja perlu tempat khusus. Dan ketika tempat kita tinggal ini udah makin sesek sama aspal, gedung perkantoran, mall, pertokoan, kantor polisi, penjara, perumahan, pom bensin, billboard, café, salon, distro, factory outlet, circle K, McDonalds, Alfamart, pedagang pulsa, bank, lahan parkir, pabrik, warnet, rental komputer, sekolah, kampus, rumah sakit, hotel, dealer mobil, bengkel, gedung pemerintahan, monumen, trus dimana lagi tempat yang paling tepat buat berolah raga? Jangan khawatir, disediain pilihan buat mereka yang "minat" sama olahraga. Ada tempat-tempat kebugaran dan angkat beban (yang disebut tempat fitness tadi), ada gelanggang olahraga, ada tempat futsal, ada lintasan lari, kolam renang,dll. Di jalanan sekitar rumah, atau jalan raya juga boleh, selama gak mengganggu ketertiban umum, kata mereka. Gak ada pilihan lain buat mereka yang tinggal di kota besar kayak Bandung.

Diluar konsep permainan dan kebutuhan akan variasi, kenapa butuh alat khusus buat mengolah raga? Mirip kayak opini sebelumnya, mungkin karena kita udah terbiasa. Kita terbiasa dan kadang begitu tergantung hidup pake alat bantu, dan mungkin ada orang-orang yang gak bisa hidup tanpanya. Dalam konteks olahraga, ini berhubungan sama keterbatasan waktu dan tempat yang udah kita bahas sebelumnya. Para penemu ulung dan jenius berpikir keras buat mereka yang gak punya banyak waktu dan terlalu sibuk buat keluar rumah buat pergi ke tempat-tempat khusus ber-olahraga. Atau buat mereka yang tinggal di kota-kota yang udah semakin sempit dan sesak ruangnya. Kebayang kan macetnya jalan, belum musti parkir dulu, dll. Maka diciptain peralatan-peralatan kebugaran kayak yang sering kita liat iklannya di TV (yang udah ga saya inget lagi nama-namanya), yang bisa digunain di rumah kita sendiri. Kayak iklan yang menjanjikan di TV, "Anda terlalu sibuk dan ga punya banyak waktu untuk berolahraga, tapi ingin memiliki tubuh yang sehat, ideal dan bugar? Dengan alat ini anda cukup melakukannya selama 15 menit sehari!" Yang ditawarin hampir selalu sama, yaitu efisiensi, khusus bagi mereka yang sibuk.

"Bahkan anda dapat melakukannya sambil membaca buku, menonton acara TV kesayangan anda, atau mendengarkan musik!"

"Pesan sekarang juga, dan dapatkan harga spesial dengan menelpon sekian sekian sekian"

"Untuk 100 pemesan pertama, gratis sebuah kaset video berisi instruksi penggunaannya! Pesan sekarang juga"

Jadi, apa memang "kemajuan" yang lagi kita bicarain ini? Buat mengolah raga kita atau hidup lebih sehat aja kita perlu kegiatan khusus, kita butuh obat-obatan, pil-pil suplemen, peralatan-peralatan khusus. Untuk ngebantu tubuh berotot, kita butuh L-Ment. Supaya berak lancar, kita butuh Vegeta. Supaya lebih "perkasa" kita butuh obat kuat. Supaya anak pintar, kita butuh susu formula. Kita bahkan khawatir sama keringat yang keluar, sampe kita ciptain minuman-minuman keringet semacam Pocari Sweat (berbeda sama Coca Cola yang berbahan dasar daun koka dan biji kola, Pocari Sweat gak berbahan dasar keringet/sweat).

Ngomong-ngomong tentang suplemen multivitamin, pasca kena tifus beberapa waktu lalu, saya disuruh dokter minum suplemen multivitamin dua kali sehari, pagi dan siang, selama tiga bulan. Saya cuman minum sebulan. Saya sempet nanya ke dokter, apa ada cara lain buat mulihin kondisi pasca bedrest tanpa pil-pil suplemen multivitamin? Dia cuman ketawa dan bilang, "mau dapet vitamin dan gizi darimana? Makanan jaman sekarang udah gak ada yang bisa menuhin kebutuhan gizi kita." Kalau dipikir-pikir, ada benernya juga. Kebanyakan orang jaman sekarang, yang merasa dirinya adalah mahluk modern, yang hampir semua makanannya adalah makanan instan, makan cuman buat ngenyangin perut, muasin lidah dan kelas sosial. Setelah dipaksa-paksa, dokter yang saya tanya itupun akhirnya ngasih tau apa yang bisa saya lakuin supaya gak bergantung sama suplemen multivitamin, yaitu makan yang banyak, dalam artian sebenarnya. Banyak, maksudnya banyak sekali, bervariasi bahannya, dan harus bener-bener diperhatiin cara ngolahnya. Sebagai bagian dari generasi yang digedein sama mie instant, tentu saja waktu itu saya milih shortcut, pil-pil suplemen multivitamin.

Planet ini udah terlalu padet. Manusia beranak pinak gak kekontrol, ngancurin keseimbangan populasi di alam (sementara kita sibuk sterilin kucing-kucing peliharaan supaya gak beranak pinak terus menerus). Dengan populasi manusia kayak sekarang, otomatis dibutuhin lebih banyak makanan yang bisa diproduksi lebih cepat. Kalau pada kenyataannya kondisi alam udah ga bisa lagi ngedukung kebutuhan seluruh populasi manusia atas makanan karena sumber makanan itu memang terbatas, para jenius punya jawabannya: modifikasi genetik semua benih, supaya bisa dipanen lebih cepet dan lebih banyak. Kita butuh yang prosesnya instan tapi mencukupi kebutuhan. Inget sama iklan jagung hibrida di TV? "Tongkol besar, untung besar." Tentu saja "kemajuan" ini adalah tentang kuantitas, bukan kualitas. Banyak (hasil panen dan profit), murah (ongkos produksi murah), cepat (proses). Jadi, di tengah gundukan bahan-bahan makanan artifisial yang penuh bahan-bahan kimia yang udah kita rekonstruksi dan modifikasi gen-nya; di tengah sayur-sayuran yang udah terkontaminasi pestisida, dan daging-daging dari hewan suntik, ada poin yang cukup masuk akal dari kata-kata dokter saya tadi. Mau dapet asupan gizi darimana?

Kembali ke masalah jam tidur saya yang udah cukup jauh bergeser (dan rupanya tulisan ngalor ngidul ini juga udah bergeser sangat jauh dari topik awalnya), saya inget beberapa orang juga mengkonsumsi obat-obat kimiawi tertentu, cuman supaya bisa tidur. Sungguh menyedihkan, dan saya menolak untuk sampai ke tahap itu. Cukuplah saya bergabung dengan cara pergi lari di lintasan lari Sabuga, karena selain sambil cuci mata, lari di jalan raya cuman bakal bikin paru-paru saya penuh asap kendaraan. Paru-paru saya udah terlalu penuh sama asep rokok. Semoga dengan ber-"olahraga", saya bisa tidur sedikit lebih cepat malamnya. Kalau gak berhasil, mungkin saya butuh masukan lain lagi tentang apa yang bisa saya lakuin untuk ngegeser balik jam tidur saya.

Rasanya cukup sampe disini dulu ngalor ngidul dan omelannya. Dilanjut di postingan lain.


Posted at 01:25 am by tremor
Comments (4)  

Sunday, August 10, 2008
Akhirnyaa..... :)

12 Juli 2008

Sebenernya udah agak lama terlintas di kepala saya buat nerusin lagi blog yang udah lama banget gak saya update ini. Coba kita liat, tanggal berapa terakhir kali saya posting? 23 Februari 2007, itu lebih dari satu tahun yang lalu..

Jadi, ngapain aja saya selama ini? Bukan karena ga ada kejadian menarik di sekitar saya buat diceritain, atau ga ada ide aneh-aneh yang terlintas selama setahun belakangan ini. Mungkin salah satu penyebab lambannya blog ini saya upload adalah malas, ditambah banyaknya aktivitas yang lain, plus memang udah ga sesemangat dulu lagi, pas masih sering ketemu koneksi internet gratis tiap hari. Waktu itu saya masih sering berkegiatan di sebuah tempat yang ada koneksi internet 24 jam-nya, yang bisa saya pake sesuka bodong. Waktu itu saya bisa ngetik-ngetik dan langsung posting. Dan sejak saya gak lagi beraktifitas disana, saya jadi harus pergi ke warnet buat ketemu sama internet. Itupun cuman kalau memang lagi ada perlu aja, gimana prioritas. Jadi, setelah itu blog udah bukan lagi prioritas utama, karena terlalu banyak yang perlu dilakuin kalau saya lagi di warnet, sementara waktunya juga terbatas. Karena bukan prioritas lagi, apa yang saya kerjain pake komputer rumahpun udah bukan ngetik-ngetik buat dimasukin ke blog. Saya makin jarang pergi ke warnet. Apalagi warnet-warnet jaman sekarang koneksinya ga terlalu kenceng. Semua user kayaknya sibuk ber-youtube ria, atau main gim dungu online, bikin koneksi sewarnet jadi lamban. Saya bener-bener kangen masa-masa dimana orang-orang pergi ke warnet cuman buat chat di dalnet, MiRC, karena mereka gak bikin koneksinya jadi berat. Anyway, sejak gak ada lagi koneksi internet gratis (saya lupa kapan terakhir kali saya nginternet gratis disana, yang pasti udah agak lama. Mungkin taun 2006-an gitu), toh saya masih sempet mertahanin blog saya ini, walaupun dengan agak megap-megap dikit, minimal sampe tanggal 23 Februari 2007. Sekarang, saya jarang banget ke warnet, bisa dua minggu sekali, kadang lebih.

Jadi, selamat datang (kembali) di blog saya. Kenapa saya mutusin buat nerusin blog ini lagi adalah karena tiba-tiba saya pengen ngelakuinnya lagi. Tiap hari saya masih aja nemu banyak hal ajaib (dengan atau tanpa tanda kutip tentunya) di sekitar saya: apa yang saya dengar; liat; baca; alamin; mimpiin; bayangin; dan oh-masih-banyak-lagi. Tapi jangan salah, bukan karena saya sebut "ajaib" tadi, trus blog ini jadi bakal berisi cerita-cerita tentang hal-hal yang luarbiasa, fantastis dan semacamnya. Masih kayak sebelumnya, blog ini cuman tempat saya cerita, curhat, marah-marah, ngedumel, ngeluarin uneg-uneg. Isinya bakal tetep cerita-cerita sederhana yang bikin saya gatel dan berkomentar, atau buat nyeritain lagi ke orang lain. Blog ini adalah salah satu alat penjaga "kewarasan" buat saya, selain ngobrol langsung sama orang beneran tentunya. Hal-hal yang disimpen sendirian bisa bikin "luber" karena gelasnya kepenuhan, dan kalau udah luber gitu, bisa-bisa ada sedikit gangguan di otak. Overload. Mungkin itu salah satu alesan kenapa kalau di film-film, kita liat kerja dari seorang psikiater salah satunya adalah ngedengerin orang curhat sambil nyoret-nyoret buku catatannya, karena mungkin manusia memang perlu berbagi, supaya isi gelas gak kepenuhan.

Nah mulai ga fokus. Semakin saya sadar kalau banyak banget hal yang bisa saya ungkapin, saya jadi makin ngerasa kepingin nerusin blog lagi. Tapi kepingin doang ga ada artinya juga kalau ga dimulai. Oke, biar saya coba memulainya. Tentu saja, biasanya saya bikin janji muluk tentang bakal ngusahain blog ini terus diupload secara berkala. Makanya kali ini saya gak bikin janji. Toh saya gak perlu janji apa-apa. Buat apa janji dan mau janji ke siapa juga?

Satu tahun bukan waktu yang sebentar, walaupun untuk beberapa hal, kerasa sangat sebentar. Pasti ada sesuatu yang berubah dalam hidup saya selama satu tahun ini. Apa ya? Mungkin bakal ada sedikit perubahan dalam gaya penulisan. Sejak ninggalin blog, saya makin jarang nulis. Dalam blog ini saya bakal berusaha nulis sesantai dulu lagi. Saya gak jadi editor disini. Bukan apa-apa, kadang saya lebih nyaman aja bulatuk ngalor ngidul, keluarin apa adanya di atas software notepad tanpa diedit lagi. Dari awal juga saya kepingin nulis blog kayak lagi tukeran cerita sama temen aja, kayak nulis email atau cerita lewat kata-kata. Itulah kenapa saya sering ga fokus pada satu tulisan, bisa kemana-mana ceritanya karena jari saya ngikut aja sama apa yang kepikiran sama otak pas lagi ngetiknya. Kayak orang ngobrol ngalor ngidul di warung kopi malem-malem, bukan kayak diskusi dengan tema spesifik. Kayak contohnya tadi, tiba-tiba jadi pengen ngebicarain tentang psikiater, dan dari satu kata "psikiater" itu langsung kepengen bicarain tentang psikopat, Jeffrey Dahmer, kanibal, Joker, Arkham Asylum, Dr.Destiny, dan waaah, jadi kemana-mana. Pikiran saya loncat-loncat ke hal-hal lain, kayak kalau lagi ngobrol beneran sama orang beneran.

Sisanya, ada beberapa perubahan dalam diri saya yang bakal saya bahas nanti di postingan-postingan lain. Tapi kalau perubahan dalam cara nulis, mungkin temen-temen yang bakal nemuin sendiri apa yang berubah dari saya.

Oke, tunggu apa lagi. 1-2-3, GO!

Mari kita mulai.

Aaah ya, hampir lupa. Seperti udah saya bilang tadi, saya jarang banget ke warnet. Karena saya ngetik semua ini di komputer rumah, saya bakal selalu nyantumin tanggal kapan saya nulis. Jadi jangan percaya sama tanggal kapan tulisan diposting, karena bisa aja baru saya posting seminggu setelah saya nulis, atau mungkin sebulan. 


Posted at 01:54 am by tremor
Comment (1)  

Friday, February 23, 2007
I'm mad. You're mad.

'But I don't want to go among mad people,' Alice remarked.
'Oh, you can't help that,' said the Cat: 'we're all mad here. I'm mad. You're mad.'

-Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Carroll

Posted at 02:48 am by tremor
Comment (1)  

Previous Page Next Page