|
"Aku hidup dalam mimpiku... Orang lain hidup dalam mimpi-mimpi, tetapi bukan mimpi milik mereka sendiri. Itulah bedanya." —Emil Sinclair, Demian: The Story of Emil Sinclair's Youth Setelah saya baca lagi postingan tentang pernikahan sebelumnya, ditambah beberapa komentar yang masuk, saya pengen memperjelas tentang apa itu makna "nikah" buat saya. Saya ga akan maparin apa yang salah dan bener, dosa atau bukan, dll disini. Saya juga gak akan komentar buat pernikahan yang didasarin keyakinan. Tapi kebanyakan orang yang saya kenal dan nikah gak pake alasan itu. Kalau kamu nikah dengan alas an keyakinan, dan kamu bener-bener yakin, berarti tulisan ini bukan buat kamu. Oke, disini saya cuman pengen ngejelasin maksud saya dengan cara ngejelasin makna yang saya ngerti tentang pernikahan. Mungkin aja pengertian kita sama kata itu beda. Dan tolong, mari kita tinggalkan sejenak kata "dosa". Bentar doang kok. Setelah tulisan ini, kalian boleh pasang lagi tembok-tembok itu. Atau mending langsung stop baca tulisan ini daripada ntar marah-marah sendiri. Menurut saya, kita gak bisa nyampur-aduk dan ngereduksi makna-makna dari sebuah kata. Kita harus ngerti apa maksud dari tiap kata, dalam hal ini "kawin", "berpasangan", atau "nikah". Kecuali kita mau pake konsep Newspeak-nya Big Brother dalam novel 1984, dimana kebanyakan kata "dipangkas" jadi cuman bersisa beberapa kata aja yang dianggap bisa ngewakilin berbagai macam kondisi dan perasaan yang berbeda-beda. Kebanyakan dari kita udah terlanjur ngelakuin hal itu. Contohnya adalah, bagi kebanyakan orang, kawin dan nikah adalah hal yang sama. Makanya jadi ada lelucon "Kalau kawin sih udah. Nikahnya ga tau kapan" untuk ngejawab pertanyaan "kapan kawin?" Kawin, berpasangan dan nikah. Saya bakal bahas tiga kata tadi satu persatu. Pertama, "kawin". Mungkin saya salah, tapi sepengetahuan saya, kata "kawin" itu maknanya lebih deket ke aktivitas fisikal, dalam artian ya kawin, bersetubuh, penetrasi, buat tujuan reproduksi. Walaupun setau saya manusia juga adalah binatang, kata "kawin" biasanya kita pake buat ngegambarin aktivitas reproduksi yang dilakuin sama spesies lain selain manusia. "Ngawinin binatang peliharaan", "kodok kawin", "ikan kawin" atau "kawin silang antar tumbuhan" adalah bahasa-bahasa halus yang biasa dipake buat ngasih tau anak kecil tentang apa yang dilakuin mahluk hidup buat ber-reproduksi. Anehnya, kebanyakan dari kita suka pake kata ini buat ngegantiin kata "nikah". Jadi lelucon "kawin sih udah" itu mungkin justru bener, karena "kawin" dan "nikah" adalah hal yang sangat berbeda. Kawin, maknanya lebih condong ke aktivitas fisikal, bersetubuh dengan tujuan reproduksi. Bercinta, bersetubuh sama orang yang kita cintai atau suka dalam artian mengumbar perasaan plus birahi, dan terjadi dialog seksual dua arah ("sama-sama suka", kalo kata orang). Seringnya bercinta gak ada hubungannya sama reproduksi. (misalnya sama pacar atau pasangan). Sementara bersetubuh, itu jauh lebih umum maknanya dan bisa dilakuin sama siapa aja, bisa jadi murni birahi tanpa perasaan apapun, dan jelas ga hubungannya sama reproduksi. (misalnya sama pelacur atau sama orang yang baru dikenal dan lagi sama-sama butuh.) * selingan sedikit, di media Balik lagi ke obrolan awal, coba liat, dari kata-kata jorok itu aja saya liat maknanya udah beda-beda. Buat saya "Making Love" itu bukan versi halus-nya "Fucking". Tapi satu hal yang pasti, kawin adalah sesuatu yang natural buat saya. Kedua, kata "berpasangan". Dalam respon tulisan sebelumnya, temen saya missasoen, sempet bilang kalau berpasangan (mating) adalah hal yang natural. Saya sepakat 100% sama pendapat itu. Jelas berpasangan adalah hal yang natural, itu insting. Bahkan kita ciptain mitologinya buat ngejelasin ketidak-tahuan kita sama sejarah keberadaan insting tersebut dalam kisah Adam dan Hawa. Spesies lainpun berpasangan dan berkeluarga. Dalam mitologi, seluruh spesies yang masuk ke bahtera Nuh pun saling berpasangan. Saya ga tau apa ada suatu bentuk perasaan atau kemistri dirasain sama spesies lain yang saling berpasangan, tapi kalau boleh berasumsi pake nilai-nilai manusia sih, ya mungkin ada. * Selingan lagi. Saya pernah nonton acara TV yang ngeliput tentang rumah sakit hewan di eropa, dimana salah satu pasiennya adalah seekor ular yang stress dan kondisi fisiknya menurun setelah pasangannya meninggal. Mereka udah berpasangan cukup lama, karena "pemiliknya" ngurung mereka berdua dalam satu sangkar sejak mereka berdua masih kecil (jadi gak ada kesempatan buat kenalan sama ular lain juga). Waktu ular betinanya meninggal, si ular jantan langsung jatuh sakit. Kalau pake persepsi manusia, tentu saja kita bisa simpulin kalo ular itu sedih, depresi ditinggal mati pasangannya. Tapi apakah kata "berpasangan" sama maknanya sama "kawin" dan "nikah"? Dan apa pernikahan adalah sesuatu yang natural juga? Lanjut. Kata "nikah" maknanya lebih ke aktivitas yang bersifat ritual yang berhubungan sama keabsahan dan legalitas. Kata ini maknanya gak sesimpel dua kata sebelumnya. Apa aja hal yang nempel dalam makna kata "nikah" ini? Pertama adalah, moral dan norma, dalam artian benar dan salah. Walaupun dalam film 'Twelve Monkeys' Brad Pitt berpendapat kalau benar dan salah adalah masalah opini siapa yang lebih populer, tapi masyarakat punya pendapat lain. Masyarakat bakal bilang bahwa sepasang kekasih yang hidup serumah tanpa lewatin proses nikah adalah hal yang salah, berdasarkan sesuatu yang studi sosiologi sebut sebagai norma sosial, yang merupakan hasil dari "kesepakatan" sosial. (Kalo dipikir-pikir, pernah gak kamu ngerasa dilibatin buat bikin kesepakatan itu? Saya sih gak.) Alasan nikah buat beberapa orang jadinya adalah, berkompromi sama norma sosial ini. Bayangin kalau kamu gak kompromi dan "kumpul kebo" di tempat yang gak tepat, bisa-bisa digedor dan diarak bugil sama warga, atau disuruh ke KUA. Udah itu mungkin kamu disuruh tobat, walaupun kamu pikir jatuh cinta atau berpasangan bukanlah sebuah dosa. Bahkan dalam mata pelajaran sosiologi waktu SMA, saya diajarin kalau "seks diluar nikah" adalah sebuah bentuk "perilaku menyimpang". Jadi, buat beberapa orang, pernikahan adalah salah satu cara supaya mereka gak disebut berperilaku menyimpang. Kompromi. * selingan lagi sedikit. Selain istilah "seks diluar nikah", ada juga istilah "hamil diluar nikah" yang secara sosial dianggap sesuatu yang aib, "menyimpang" dan sangat tercela. Padahal hamil adalah suatu kondisi yang sangat-sangat natural, kalau kita ngerti tentang proses reproduksi mahluk hidup. Cuman satu hal yang nyebabin proses pembuahan manusia jadi hal yang tercela: norma sosial yang diciptain dan dilestariin secara turun-temurun sama manusia itu sendiri. Kompromi sama norma sosial berhubungan sama apa yang disebut sebagai pengakuan sosial. Kamu bakal diakui sebagai warga yang "normal", "straight", "gak neko-neko", "gak menyimpang", "beradab", "bernorma", dll kalau kamu ikut aturan mainnya. Tentu saja saya gak bicarain aturan main alam, tapi aturan main kumpulan manusia. tolong ingat bedanya. Siapa dan apa saja yang terlibat selain diri kamu sendiri dan pasangan kamu? Pernikahan, mengacu pada studi sosiologi yang diajarin ke kita secara sistematis, adalah "sebuah bentuk ikatan hidup antara pria dan wanita, yang merupakan salah satu norma pengatur dalam masyarakat." Tapi siapa yang ngatur dan nentuin kita boleh nikah sama siapa? Yang pertama mungkin adalah lingkungan terdekat kita sendiri, yaitu keluarga. Asumsiin bahwa semua orang nikah sama orang yang mereka cintai. Walaupun jatuh cinta adalah hal yang natural, walaupun mereka sendirilah yang bakal ngidupin kehidupan mereka, keluarga mereka belum tentu setuju sama pilihan mereka. Bahasa kerennya, gak direstui keluarga. Saya gak bilang semua keluarga kelakuannya kayak gini, tapi semua orang pasti sepakat kalau hal ini masih terjadi. Jadi inget sama Siti Nurbaya ya? Apa aja pertimbangan standar keluarga dalam nentuin calon anggota barunya? Bisa harta benda, bisa gengsi, bisa kedudukan sosial, bisa hukum adat, bisa persepsi, bisa rasa sentimen, bisa hukum agama, dan alasan-alasan lainnya, sampai ke alasan yang paling gak masuk akal sekalipun. Berikutnya adalah, negara dan agama lewat instansi khususnya. Kalau disini ada KUA di bawah naungan Departemen Agama-nya. Saya lagi bicarain esensi dan makna pernikahan secara universal, jadi kalau kamu bakal komentar bahwa "ya iyalah, " "Kalau alesan nikah buat bikin akte anak, logiskah?" Itu adalah isi sms salah satu temen saya dari Selain itu, "surat ijin" ini juga jadi semacam surat kepemilikan sah buat kedua mempelai, dimana suami kemudian jadi "milik" istri, dan istri jadi "milik" suami. Ini adalah senjata legal kalau-kalau suami atau istri "main serong" atau jatuh cinta lagi sama orang lain. Bahkan untuk berpisah dan menyudahi kisah cinta mereka sekalipun, perlu campur tangan negara. Walaupun perpisahan dan konflik adalah hal yang sama naturalnya sama jatuh cinta, tapi sepasang kekasih yang udah "diikat" sama negara gak boleh ngelepasin ikatannya sendiri begitu aja. Kalau mau ikut aturan mainnya, kamu harus ngajuin "proposal"-nya dulu, dan kemudian ditentuin nasibnya dalam persidangan, walaupun itu adalah hidup kamu. Konsep * selingan lagi, setau saya di beberapa negara seperti di AS, anjing-anjing tanpa kalung pengenal bakal ditangkap dan diangkut ke tempat penampungan karena dianggap liar tanpa pemilik (mirip sama kisah penangkapan orang-orang yang dicurigai sebagai preman atau WTS cuman karena mereka gak punya kalung pengenal yang berbentuk kartu identitas. Mereka didata dan katanya dikirim ke penampungan sementara buat dikasih pengarahan Ritual Di awal, saya bilang kalau nikah itu maknanya lebih ke aktivitas yang bersifat ritual, dan pergi ke KUA buat ngedapetin "surat ijin" adalah salah satu ritualnya. Ritual apa lagi yang perlu dilakuin setelah itu? Kalau KUA adalah ritual "pemberian ijin" yang berdasarkan legalitas, ritual "pemberian ijin" lainnya adalah berdasarkan religius, adat istiadat, dan sosial. Ya kalian udah taulah yang berdasarkan religius. Sepasang kekasih "disahkan" sama pemuka agama, dan setelah itu pasangan tersebut jadi "sah" di muka Tuhan (sesuai kepercayaan masing-masing) dan bebas bersetubuh kapanpun juga tanpa perlu khawatir lagi sama yang namanya dosa. Minimal, kemaluan mereka gak akan disiram timah panas di neraka nanti. Kalau ritual berdasarkan adat istiadat, ya ritual kedaerahan atau sesuai kebiasaan daerah asal. Misalnya ritual simbolis nginjek telor, istri cuciin kaki suami, sawer, dan lain sebagainya. Ritual ini ngehasilin pengakuan secara adat. Nah, yang menarik adalah ritual yang berdasarkan sosial, dan ngehasilin pengakuan yang lebih luas, yaitu pengakuan secara sosial. Supaya gak jadi bahan gosip para tetangga dan kolega keluarga, perlu dilakuin ritual ini. Biasanya ritual ini disebut "syukuran", seringnya berbentuk pesta (boleh pesta-pora boleh juga kecil-kecilan), dimana umumnya para undangan adalah kerabat, teman dan tetangga. Intinya, ngabarin berita: "sekarang sepasang kekasih udah diijinin untuk tinggal bareng secara legal, jadi jangan arak mereka telanjang keliling kampung!" Ya, saya tau, gak semua pasangan berpikiran kayak gitu. Tentu saja banyak orang nikah sama orang yang bener-bener lagi mereka cintai. Karena buat sepasang kekasih yang saling jatuh cinta, umumnya bakal punya mimpi buat hidup bersama dan bahagia ("for ever and ever and ever" kayak di dongeng-dongeng yang menginspirasi kebanyakan dari kita sejak kecil, dan ngucapin "til death do us apart" pas udah gede), ngebangun keluarga mereka sendiri, punya anak dari darah daging mereka sendiri, dan ngegedein anak mereka sendiri. Banyak orang ngejer mimpi itu, dan tentu saja hasrat buat ngejer mimpi juga merupakan sesuatu yang natural. Tapi yang saya tau, di tengah "norma sosial" yang kita tau ciptaan siapa tadi, tentu saja satu-satunya jalan aman yang harus ditempuh buat ngejer mimpi-mimpi itu adalah dengan cara menikah secara legal dan resmi, walaupun semua orang tau kalau siapapun bisa ngejer mimpi-mimpi itu tanpa perlu campur tangan dan rasa curiga orang lain. Jadi, sejauh ini "menikah buat berkompromi" adalah jawaban yang paling masuk akal buat saya. Kalau suatu hari saya menikah sekalipun, alasanya adalah, berkompromi. Nah, sejauh ini baru itu yang kepikiran sama saya. Makasih buat semua komentar yang masuk. Buat missasoen, tentu saja saya gak ngasih stigma buruk ke siapapun yang ngejalanin dan nikah, karena tema yang lagi saya bicarain bukan pelaku, tapi lebih ke pernikahan itu sendiri dan semua alasan dibaliknya. Lagian itu Kalau seseorang megang kuat nilainya sendiri (atau boleh juga nilai yang dikasih sama orang lain), tentu saja tulisan saya ini gak perlu dipikirin secara serius. Atau bisa juga ikut berbagi lewat link "comment" di bawah tulisan ini. Toh kita semua gak diharusin punya nilai dan pemikiran yang sama. Saya gak lagi nyerang nilai siapa-siapa kok, saya cuman lagi curhat untuk tetep ngejaga kewarasan saya. Intinya, sampai saat ini saya gak ngerasa punya jawaban yang masuk akal atas pertanyaan "apa aja alasan-alasan buat menikah?" selain jawaban nikah buat kompromi tadi. Tapi saya masih nyari tau, siapa tau ada alasan yang selama ini gak kepikiran sama saya. Seperti respon missasoen, bakal ada 1001 alasan, mungkin saya memang butuh ke-1001 alasan itu. Makanya di tulisan sebelumnya saya nanya ke temen-temen, "Kira-kira kalau kamu mau nikah dalam waktu dekat, apa alasan kamu mutusin hal itu?" ya, anggep aja saya lagi ngumpulin lebih banyak alasan dari pengalaman temen-temen semua. Adios. |
| penghulu syetann March 21, 2009 07:02 PM PDT sy rasa alasan yang paling masuk akal untuk nikah bukan kompromi tapi memulai perang...haha.... ur open the key to ur hell... congrats!! | ||
| ganjagirl February 27, 2009 02:54 PM PST nikah itu achievement. hahahaha. | ||
| the bolang November 18, 2008 02:05 AM PST anjis sombong sekali kamu diora...emang apa sih bedanya aku kamu dengan binatang? | ||
| diora November 7, 2008 08:22 AM PST pernikahan lebih dari sekedar kompromi, pernikahan yang ngebedain antara kita(manusia) dan binatang, memang pernikahan nggak bisa lepas dari faktor ekonomis kepentingan dan yang lainnya. tapi kalau dilihat dari sisi yang lainnya... justru dengan adanya pernikahan kita bisa mengatur ego kita sendiri... | ||
| aktifistri October 31, 2008 09:15 PM PDT kita berbagi pemikiran yg sama. Setuju dengan most of points that you've brought up. Mencerahkan! Next time i'll try to write my points thoroughly.. | ||
| D stand for DECAY October 29, 2008 02:49 PM PDT tindakan anarkis is good kok hehe... :) | ||
| Huiono October 27, 2008 10:48 PM PDT Perlu kukatakan, kita berbagi kegelisahan yang sama. Tidak. Tidak hanya menyangkut pernikahan. Ada banyak hal yang akan terlalu panjang jika diperbincangkan. Kita terjebak dalam aturan yang ditentukan orang-orang dulu!!! Apa itu 'kesepakatan sosial'? Itu buatan orang-orang dulu yang setelah mati, memenggal kebebasan generasi mendatang. Mungkin kalau orang-orang dulu itu masih hidup hingga sekarang, ketika zaman mengubah pandangan dan lebih membuka pikiran, 'kesepakatan sosial' yang mereka dengung-dengungkan akan perlahan digugurkan. Tapi tak bisa juga. Akan ada yang tak senang. Bukankah begitu? Selalu ada anti-hero atau malah superhero. Begitulah ironi hidup. Selalu ada orang yang mencuri kesempatan dalam hidup. Terlalu banyak dicuri, hidup pun menyempit. Kita, orang-orang yang terlahir saat ini terhimpit dan terjepit. During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act -George Orwell Jadi, marilah kita memberontak. (bagi pembaca lain: Tolong jangan disimpulkan sebagai tindakan anarkis, tetapi kritis. Berontaklah lewat pemikiran dan ide-ide cemerlang. Karena pemikiran dan ide cemerlang adalah untuk perubahan yang jika bukan sekarang, maka untuk masa akan datang. Anarkis yang ditunjukkan berbagai pihak, entah berselimut tebal agama dan keyakinan, hanya menghancurkan harapan akan kebebasan. Orang menjadi takut pada perubahan.) | ||
| Leave a Comment: |